Sawang sinawang
Tipe : Cerita fiksi
Sawang sinawang
Pada suatu sore, kita bertiga asik duduk di pelataran rumah, angin sepoi sepoi dengan sinar matahari yang sudah condong kebarat, menambah asiknya obrolan kami, persis didepan halaman rumah banyak mobil lalulalang, hilir mudik.
Sudah sekian banyak topik pembicaraan mengalir dari mulut kami bertiga sambil selingi dengan tawa, kadang terbahak bahak.
Enak juga ya jadi orang kaya..kata temanku supri.
Emangnya..timpalku.
Iya bisa jalan-jalan pake mobil, uang banyak, istri cantik, anak sehat, rumah gedung banyak simpenan uang dan perempuan..sambil tertawa nyengir.
Ah..siapa bilang..kata sugi temanku satu lagi..
Lhaa itu buktinya didepan mata kita..jawab supri. Sambil menunjuk sebuah mobil keluarga, yang terdiri dari seorang bapak dengan disebelahnya duduk seorang wanita cantik sementara dibelakang duduk beberapa anak remaja.
Iya..ya. Sejenak kami bertiga terdiam..kemudian tertawa kembali, entah apa yang ditertawakan..mungkin nasib kami bertiga yang belum beruntung, masih pengangguran.
Sementara dikemudi setir mobil seorang bapak yang diceritakan tadi oleh kami menatap kita bertiga dengan mata nanar..
Mungkin dalam hati nya berkata..
Enak ya jadi mereka bertiga, bisa tertawa tawa, bercanda, duduk santai tanpa beban, tidak seperti saya, banyak pekerjaan, banyak tanggungan, utang, sibuk, cape, stres..ahhh
Ternyata apa yang kita pandang bagus buat seseorang belum tentu bagus juga untuk orang yang merasakannya.
Kata orang jawa, disebut sawang sinawang.
Sawang sinawang
Pada suatu sore, kita bertiga asik duduk di pelataran rumah, angin sepoi sepoi dengan sinar matahari yang sudah condong kebarat, menambah asiknya obrolan kami, persis didepan halaman rumah banyak mobil lalulalang, hilir mudik.
Sudah sekian banyak topik pembicaraan mengalir dari mulut kami bertiga sambil selingi dengan tawa, kadang terbahak bahak.
Enak juga ya jadi orang kaya..kata temanku supri.
Emangnya..timpalku.
Iya bisa jalan-jalan pake mobil, uang banyak, istri cantik, anak sehat, rumah gedung banyak simpenan uang dan perempuan..sambil tertawa nyengir.
Ah..siapa bilang..kata sugi temanku satu lagi..
Lhaa itu buktinya didepan mata kita..jawab supri. Sambil menunjuk sebuah mobil keluarga, yang terdiri dari seorang bapak dengan disebelahnya duduk seorang wanita cantik sementara dibelakang duduk beberapa anak remaja.
Iya..ya. Sejenak kami bertiga terdiam..kemudian tertawa kembali, entah apa yang ditertawakan..mungkin nasib kami bertiga yang belum beruntung, masih pengangguran.
Sementara dikemudi setir mobil seorang bapak yang diceritakan tadi oleh kami menatap kita bertiga dengan mata nanar..
Mungkin dalam hati nya berkata..
Enak ya jadi mereka bertiga, bisa tertawa tawa, bercanda, duduk santai tanpa beban, tidak seperti saya, banyak pekerjaan, banyak tanggungan, utang, sibuk, cape, stres..ahhh
Ternyata apa yang kita pandang bagus buat seseorang belum tentu bagus juga untuk orang yang merasakannya.
Kata orang jawa, disebut sawang sinawang.